Amalan Seperti Berhaji (2)

-amalan-seperti-berhaji-pondok-sanad

Disadur dari tulisan
Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf

Sebelumnya:
Amalan Seperti Berhaji (1)

بسم اللٌه الرٌحمن الرٌحیم

umrah saat bulan ramadhan amalan seperti berhaji

Umrah di Bulan Ramadhan

Berkata Ibnu Abbas ra, Rasul saw pernah bertanya pada seorang wanita;

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

“Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?”
Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut.
Lalu Rasul saw  bersabda;

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadhan tiba berumrahlah saat itu, karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.”

HR. Bukhari, no. 1782; Muslim, no. 1256

Dalam lafadz Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.”

HR. Muslim, no. 1256

Dalam lafadz Bukhari yang lain disebutkan;

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” []

HR. Bukhari no. 1863

 
Imam Nawawi rhm  mengatakan;

“Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” () 

Syarh Shahih Muslim, 9/2
berbakti kepada orang tua amalan seperti berhaji

Berbakti Pada Orang Tua

Berkata Anas bin Malik ra;

إِنِّي أَشْتَهِي الْجِهَادَ وَلا أَقْدِرُ عَلَيْهِ ، قَالَ هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ ؟ قَالَ : أُمِّي ، قَالَ : فَأَبْلِ اللَّهَ فِي بِرِّهَا ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ ، وَمُعْتَمِرٌ ، وَمُجَاهِدٌ.

“Ada seseorang yang mendatangi Rasul dan ia sangat ingin pergi berjihad namun tidak mampu. Rasul saw bertanya padanya apakah salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup. Ia jawab, ibunya masih hidup.
Rasul pun berkata padanya, “Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad.”

HR. Ath-Thabrani dalam  Al-Mu’jam Al-Ausath  5/234/ 4463 dan Al-Baihaqi dalam  Syu’ab Al-Iman  6/179/7835. Hasan
kerja keras dan berusaha amalan seperti berhaji

Bertekad dan Berusaha

Setelah seseorang berniat dan berusaha secara maksimal, tetapi tidak juga dapat melaksanakan haji karena terkena udzur maka di sisi Allah swt dia seperti berhaji.

Seperti kondisi saat ini, seseorang yang telah membayar lunas sudah mendapat kursi, bahkan sudah keluar namanya untuk berangkat tiba-tiba terjadi pandemi hingga ia gagal untuk berangkat atau ia wafat, maka tercatat sebagai orang yang berhaji di sisi Allah swt.

Berkata Jabir ra;

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فِى غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ.

Dalam suatu peperangan kami pernah bersama Rasul saw saat itu beliau saw bersabda; “Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan perjalanan perang, juga tidak menyeberangi suatu lembah, namun mereka bersama kalian (dalam pahala). Padahal mereka tidak ikut berperang karena mendapatkan uzur sakit.”

HR. Muslim, no. 1911

Dalam lafadz lain disebutkan,

إِلاَّ شَرِكُوكُمْ فِى الأَجْرِ

“Melainkan mereka yang terhalang sakit akan dicatat ikut serta bersama kalian dalam pahala.”

Juga ada hadits dari Anas bin Malik ra;

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ فِى غَزَاةٍ فَقَالَ « إِنَّ أَقْوَامًا بِالْمَدِينَةِ خَلْفَنَا مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلاَ وَادِيًا إِلاَّ وَهُمْ مَعَنَا فِيهِ ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ .

Dalam suatu peperangan Rasul saw berkata, “Sesungguhnya ada beberapa orang di Madinah yang ditinggalkan tidak ikut peperangan. Namun mereka bersama kita ketika melewati suatu lereng dan lembah. Padahal mereka terhalang uzur sakit ketika itu.”

HR. Bukhari, no. 2839

Rasul saw bersabda;

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika salah seorang sakit atau bersafar, maka ia dicatat mendapat pahala seperti ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar) atau ketika sehat.”

HR. Bukhari

Bersambung..

Tanggapan