fbpx

Kualitas Keislaman

بسم اللٌه الرٌحمن الرٌحیم

Ikhwani kaum muslimin yang senantiasa dalam rahmat Allah Ta’ala , tentunya kita sering mendengar kata “kualitas” yang berarti tingkat mutu, jaminan, bagusnya sebuah sesuatu, dalam hal perdagangan misalnya tentu barang barang yang berkualitas adalah barang yang bermutu. Yang tentunya akan dicari banyak orang untuk membelinya sehingga para pedagang itu akan berlomba mempromosikan kualitas barang dagangan mereka supaya mereka untung dalam dunia perdagangan.

Tentu perdagangan bukanlah suatu perbuatan yang tercela, bahkan suatu perbuatan yang terpuji yang dibenarkan dalam Syariat Islam (selagi tidak keluar dari aturan fiqih). Akan tetapi, yang akan penulis bahas kali ini bukan soal perdagangan, melainkan yang jauh lebih fundamental darinya yaitu bagaimana kualitas keislaman kita?
Pernahkan kita bertanya bagaimana kualitas keislaman kita sehingga kita layak untuk mengaku sebagai umatnya Baginda Rosuullah ﷺ?
Maka, sebagai umat Islam akan datang sebuah masa dimana kita akan dipertanyakan bagaimana kualitas ke Islaman kita? baik kah? buruk kah? atau jauh lebih menghawatirkan lagi?

Dengan tulisan ini penulis mengajak untuk kita menjawab pertanyaan tersebut sebagai bahan evaluasi diri khususnya penulis dan untuk semua pembaca dimanapun berada.
Yang perlu kita pertanyakan berikutnya adalah bagaimana rumusnya tatkala kita ingin mengetahui kualitas keislaman kita? maka lebih 14 abad yang lalu baginda Rosulullah Shallallahu alayhi wassalam sudah memberikan kita salah satu rumusnya dalam sebuah hadits:

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من حسن اسلام المرء تركه ما لا يعنيه"حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا.

Dari Abu Hurayroh Rodhiyallahu anhu, telah berkata Rosulullah ﷺ diantaran tanda tanda baiknya keIslaman seseorang maka lihatlah dia ketika menjauhi sesuatu yang tidak layak untuknya.

Lewat hadits diatas menjadikan sebuah rumus bagi kita yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak layak untuk kita ikut didalamnya ternyata itu tanda dari bagusnya kualitas Islam kita. Semakin kita menjauhi perkara-perkara yang tidak layak makan semakin baik pula kualitas keimanan kita. Dalam menjelaskan hadits diatas para ulama memberikan beberapa contoh kepada kita semua apa saja perkara yang tidak layak sebagaimana dalam hadist tersebut. Asyyaikh Abdul Lathif Al Jurdani Menjelaskan penjabaran para ulama lewat kitab beliau Jawahir Lu’Lu iyyah beberapa contohnya diantaranya : 

Dan banyak hal lainnya yang tidak bermanfaat untuk kita lakukan. Perkara yang tidak layak adalah suatu musibah yang sangat besar maka apabila kita meninggalkannya maka sesungguhnya kita selamat dari musibah yang sangat besar itu.

Itulah salah satu ciri mengetahui kualitas keislaman kita, sebagaimana yang tadi penulis sampaikan maka jadikanlah rumus ini untuk menilai diri kita apakah selama ini kita selamat dari musibah besar itu?
Semoga kita semua senantiasa diberikan taufik dan hidayah Allah dan senantiasa selalu berusaha memperbaiki kualitas keislaman dan keimanan kita.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Artikel Terkait

Kisah Imam Ali Zainal Abidin bin Husain

Al-Habib Ali Zainal Abidin Bin Abdurrahman Al-Jufri menceritakan sebuah kisah tentang Imam Ali Zainal Abidin: “Beliau datang ke masjid kemudian menjalankan sholat dan berdoa dengan tenang setelah itu beliau keluar. Ketika beliau keluar masjid Imam Ali Zainal Abidin bertemu dengan seseorang yang tidak suka dengan ahli bait (semoga Allah azza wajalla menjauhkan kita dari sifat itu karena sifat itu adalah sifat-sifat orang munafik/nifaq)”.

Tanggapan