fbpx

Sabar Menghadapi Istri

sabar menghadapi istri

Sabar, kata yang mudah dituliskan dan ringan diucapkan namun teramat sulit diterapkan sampai-sampai Allah menjanjikan pahala yang begitu besar bagi mereka yang bersedia bersabar terhadap ketentuan Allah, Sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

Itulah yang terjadi kepada seorang waliyullah yang bernama Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Bajalhaban, beliau tinggal dekat kota Tarim, Hadhramawt-Yaman. Uniknya wali yang satu ini sebelumnya sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya adalah seorang wali.

Beliau memiliki seorang istri yang sifat pemarah dan cerewetnya berada diatas rata-rata. Meski omelan dari sang istri seakan sudah menjadi makanan sehari-hari baginya namun ia selalu bersabar dan ridho’ menghadapinya.

Suatu ketika beliau memutuskan untuk berkhalwat (menyendiri dengan beribadah) diatas sebuah gunung yang tak jauh dari rumahnya. Ternyata disana sudah ada dua orang saleh yang juga tengah melakukan khalwat. Anehnya setiap kali membutuhkan makanan, yang mereka lakukan hanyalah berdoa sejenak dan kemudian hidangan sampai dihadapan mereka. Karomah keduanya membuat Syeikh Bajalhaban takjub dan bertanya: “Dengan apa kalian berdoa sehingga makanan ini turun dalam sekejap?
Mereka menjawab, “kami meminta kepada Allah dengan bertawassul kepada Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Bajalhaban, dia diangkat menjadi wali karena kesabarannya menghadapi tabiat istrinya.”
Keduanya tidak sadar bahwa wali yang ditawassulkan tengah berada dihadapan mereka. Mendengar itu Syeikh Baajalhaban langsung menyudahi khalwatnya dan pulang kerumah.

Sesampainya dirumah Syeikh Bajalhaban mengetuk pintu dengan hati riang sembari berkata kepada istrinya: “Sekarang aku ingin lebih banyak lagi bersabar menghadapimu”. Istrinya menjawab, “akhirnya sekarang kau menyadarinya, sejujurnya sikap kasarku selama ini kepadamu hanyalah untuk mengujimu karena aku sudah lebih dahulu mengetahui bahwa dirimu adalah seorang wali yang mastur (tidak nampak)”. Selama ini Syeikh Bajalhaban tidak menyadari bahwa sang istri ternyata juga seorang waliyah.

Begitulah Tuhan semesta alam memiliki banyak cara untuk mengangkat derajat hamba-hamba-Nya. Terkadang Allah memberi kita kesulitan bukan karena amarah namun karena kasih sayang-Nya yang tanpa batas, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah:

إنَّ عِظم الجزاء من عظم البلاء ، وإنَّ الله عز وجل إذا أحب قوماً ابتلاهم ، فمن رضي فله الرضا ، ومن سخط فله السخط " رواه الترمذي

Sungguh besarnya pahala tergantung kepada besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum maka akan mengujinya, siapa yang ridha’ maka ia akan mendapat keridhaan Allah, namun siapa yang murka maka ia akan mendapatkan murka Allah

Sikap cerewet para wanita sejatinya adalah sunnatullah yang perlu disikapi dengan kepala dingin dan bijaksana demi mewujudkan impian rumah tangga yang sakinah. Bahkan sebagian auliya’ sengaja memperistri wanita yang galak demi meningkatkan derajat mereka disisi Allah.

Artikel Terkait

Kisah Imam Ali Zainal Abidin bin Husain

Al-Habib Ali Zainal Abidin Bin Abdurrahman Al-Jufri menceritakan sebuah kisah tentang Imam Ali Zainal Abidin: “Beliau datang ke masjid kemudian menjalankan sholat dan berdoa dengan tenang setelah itu beliau keluar. Ketika beliau keluar masjid Imam Ali Zainal Abidin bertemu dengan seseorang yang tidak suka dengan ahli bait (semoga Allah azza wajalla menjauhkan kita dari sifat itu karena sifat itu adalah sifat-sifat orang munafik/nifaq)”.

Tanggapan