fbpx

Safar atau Bepergian (bagian 4/5)

Disadur dari tulisan:
Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf

بسم اللٌه الرٌحمن الرٌحیم​

Waktu Perjalanan

Bila kita dapat memilih atau menentukan waktu safar, maka hendaklah mulai melakukan perjalanan pada:

Berkata Ka’ab bin Malik ra;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ فِيْ غَزْوَةِ تَبُوْكَ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ.

"Nabi ﷺ keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk keluar pada hari Kamis."

Di dalam riwayat lainnya;

لَقَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِذَا خَرَجَ فِيْ سَفَرٍ إلاَّ يَوْمَ الْخَمِيْسِ.

"Rasul ﷺ apabila bepergian senantiasa melakukannya pada hari Kamis.”

Waktu pagi adalah waktu yang penuh keberkahan, dan Rasul ﷺ pernah berdo'a;

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لأُِمَّتِيْ فِيْ بُكُوْرِهَا

"Ya Allah, berkahilah ummatku pada pagi harinya.”

HR. Abu Dawud dan Thurmudzi, Hadits ini hasan Tweet

Berkata Anas bin Malik ra, Rasul ﷺ bersabda;

عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ.”

“Hendaklah kalian bepergian pada waktu malam, karena seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam.”

HR. Abu Dawud dan al-Hakim, hasan Tweet

Selama Dalam Perjalanan

Berkata Abu Hurairah ra, Rasul ﷺ bersabda;

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.”

Maksud kalimat Safar adalah bagian dari adzab yaitu;

Meninggalkan Yang Disukai

Berkata Ibnu Hajar rhm; "Kesulitan yang dihadapi ketika berkendaraan dan berjalan sampai harus meninggalkan hal-hal yang disukai." (Al-Fathul)

Mengalami sulit makan, minum dan tidur. (Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol)

Imam Al Haromain pernah ditanya, “Kenapa safar dikatakan bagian dari adzab?” Beliau rhm menjawab,
لِأَنَّ فِيهِ فِرَاق الْأَحْبَاب
“Karena safar akan meninggalkan segala yang dicintai.” (al-Fathul)

Lelah dan Bosan

Sebagus apapun kendaraan, tetap saja musafir akan mengalami rasa lelah, jenuh dan khawatir untuk keselamatan dalam perjalanan.

Berkata Jabir bin Abdillah ra;

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

"Kami para sahabat ketika melewati jalan" yang menanjak, kami bertakbir. Dan ketika melewati jalanan yang turun, kami bertasbih."

Berkata Ibnu Umar ra;

وَكَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا

"Nabi ﷺ dan pasukannya apabila melewati jalanan perbukitan yang naik, mereka bertakbir, dan apabila mereka turun, mereka bertasbih.'"

Berkata Abu Hurairah ra, Rasul ﷺ bersabda;

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga waktu yang tidak di ragukan lagi akan dikabulkannya do’a, yaitu; do’a orang yang terzholimi, do’a seorang musafir dan do’a orang tua pada anaknya.”

HR. Ahmad, Thurmudzi dan Ibnu Majah, hasan Tweet

Berkata Salamah bin al-Akwa ra;

“Kami bepergian bersama Rasul ﷺ menuju Khaibar, kemudian kami terus bergerak ketika malam, lalu berkatalah seseorang kepada Amir bin Akwa’, "Tidakkah engkau perdengarkan kepada kami sya’ir-sya’ir kegembiraanmu?"
Hal ini dikarenakan Amir adalah seorang penyair, kemudian beliau (Amir) turun dari tunggangannya dan memberikan semangat kepada orang-orang, seraya berkata: "Ya Allah, jika tidak karena Engkau pasti kami tidak akan pernah mendapatkan petunjuk, tidak pula kami bershadaqah dan tidak pula kami shalat"
Kemudian Rasul ﷺ bertanya: "Siapakah yang membaca syair itu?"
Mereka menjawab: "Amir bin al-Akwa"
Kemudian Rasul ﷺ berkata: "Semoga Allah swt memberikan rahmat kepadanya.”

Allah swt berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir."

Terbanyak dari para ulama berpendapat bahwa, sholat dengan cara men-jama’ dan men-qashar lebih utama daripada didirikan secara sempurna sebab jama’ dan qashar adalah sebuah keringanan (ruhksoh).

Mengenai rukhsoh atau keringanan, mereka berdalil dengan hadits,

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

“Qashar shalat itu sedekah yang Allah berikan kepada kalian. Maka terimalah sedekah tersebut.”

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email

Artikel Terkait

Tanggapan