Waktu dan Adab Safar

Disadur dari tulisan:
Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf

Artikel sebelumnya:
Safar: Arti, Macamnya, dan Manfaat
Perhatikan Hal-hal Ini Sebelum Safar

Persiapan Sebelum Safar

بسم اللٌه الرٌحمن الرٌحیم​

Waktu Perjalanan

Bila kita dapat memilih atau menentukan waktu safar, maka hendaklah mulai melakukan perjalanan pada:

Pada hari Kamis

Berkata Ka’ab bin Malik ra:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ فِيْ غَزْوَةِ تَبُوْكَ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ

Nabi ﷺ keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk keluar pada hari Kamis.

HR. Bukhari dan Abu Daud

Di dalam riwayat lainnya:

لَقَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِذَا خَرَجَ فِيْ سَفَرٍ إلاَّ يَوْمَ الْخَمِيْسِ

Rasul ﷺ apabila bepergian senantiasa melakukannya pada hari Kamis.

HR. Bukhari

Di Waktu Pagi

Waktu pagi adalah waktu yang penuh keberkahan, dan Rasul ﷺ pernah berdo’a:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لأُِمَّتِيْ فِيْ بُكُوْرِهَا

“Ya Allah, berkahilah ummatku pada pagi harinya.”

HR. Abu Dawud dan Thurmudzi, Hadits ini hasan

Di Waktu Malam

Berkata Anas bin Malik ra, Rasul ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالدُّلْجَةِ فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ

Hendaklah kalian bepergian pada waktu malam, karena seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam.

HR. Abu Dawud dan al-Hakim, hasan

Selama Dalam Perjalanan

1. Bersabar

Berkata Abu Hurairah ra, Rasul ﷺ bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.

HR. Bukhari dan Muslim

Maksud kalimat Safar adalah bagian dari adzab yaitu;

  • Meninggalkan Yang Disukai
Berkata Ibnu Hajar rhm:

Kesulitan yang dihadapi ketika berkendaraan dan berjalan sampai harus meninggalkan hal-hal yang disukai.

Al-Fathul
  • Mengalami sulit makan, minum dan tidur. (Syarh Al Bukhari, Ibnu Batthol)
Imam Al Haromain pernah ditanya, “Kenapa safar dikatakan bagian dari adzab?”

Beliau rhm menjawab:

لِأَنَّ فِيهِ فِرَاق الْأَحْبَاب

“Karena safar akan meninggalkan segala yang dicintai.”

Al-Fathul
  • Lelah dan Bosan

Sebagus apapun kendaraan, tetap saja musafir akan mengalami rasa lelah, jenuh dan khawatir untuk keselamatan dalam perjalanan.

2. Bertakbir ketika jalanan naik atau menanjak dan bertasbih ketika jalanan turun

Berkata Jabir bin Abdillah ra:

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

Kami para sahabat ketika melewati jalan” yang menanjak, kami bertakbir. Dan ketika melewati jalanan yang turun, kami bertasbih.

HR. Bukhari

Berkata Ibnu Umar ra:

وَكَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَجُيُوشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا

Nabi saw dan pasukannya apabila melewati jalanan perbukitan yang naik, mereka bertakbir, dan apabila mereka turun, mereka bertasbih.

HR. Abu Daud, shahih

3. Banyak Berdo’a

Berkata Abu Hurairah ra, Rasul saw bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Tiga waktu yang tidak di ragukan lagi akan dikabulkannya do’a, yaitu; do’a orang yang terzholimi, do’a seorang musafir dan do’a orang tua pada anaknya.

HR. Ahmad, Thurmudzi dan Ibnu Majah, hasan

4. Tidak Kaku Dalam Perjalanan

Baik bila seorang Musafir membaca atau mendengar Syair, Sholawat atau Dzikir..dll, yang tidak mengandung dosa.

Berkata Salamah bin al-Akwa ra:

Kami bepergian bersama Rasul saw menuju Khaibar, kemudian kami terus bergerak ketika malam, lalu berkatalah seseorang kepada Amir bin Akwa’, “Tidakkah engkau perdengarkan kepada kami sya’ir-sya’ir kegembiraanmu?” Hal ini dikarenakan Amir adalah seorang penyair, kemudian beliau (Amir) turun dari tunggangannya dan memberikan semangat kepada orang-orang, seraya berkata: “Ya Allah, jika tidak karena Engkau pasti kami tidak akan pernah mendapatkan petunjuk, tidak pula kami bershadaqah dan tidak pula kami shalat” Kemudian Rasul saw bertanya: “Siapakah yang membaca syair itu?” Mereka menjawab: Amir bin al-Akwa, Kemudian Rasul saw berkata: “Semoga Allah swt memberikan rahmat kepadanya.

HR. Bukhari dan Muslim

5. Beristirahat Bila Lelah, baik orang atau kendaraannya

6. Menjaga Sholat

Allah swt berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.”

Qs. An-Nisa’: 101

Terbanyak dari para ulama berpendapat bahwa, sholat dengan cara men-jama’ dan men-qashar lebih utama daripada didirikan secara sempurna sebab jama’ dan qashar adalah sebuah keringanan (ruhksoh).

Mengenai rukhsoh atau keringanan, mereka berdalil dengan hadits,

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

Qashar shalat itu sedekah yang Allah berikan kepada kalian. Maka terimalah sedekah tersebut.

HR. Muslim
Bersambung ke: Adab Pulang dari Safar

Tanggapan